Selasa , Januari 23 2018
Home / Komunitas / RGL FM, Radio Komunitas Berwawasan Lingkungan

RGL FM, Radio Komunitas Berwawasan Lingkungan

Lambang RGL FM (Foto : RGL FM)
Lambang RGL FM (Foto : RGL FM)

Radio komunitas (rakom) adalah buah reformasi 1998. Reformasi 1998 membawa angin keterbukaan bagi masyarakat dalam mengelola informasi dan media massa, termasuk media massa radio.

Era keterbukaan ini dimanfaatkan warga Desa Hanura, Desa Cilimus dan Desa Hurun, Pesawaran, yang tergabung dalam organisasi SHK Lestari untuk mendirikan sebuah rakom bernama Radio Gema Lestari (RGL) FM. Sejak berdiri pada Mei 2004, RGL FM aktif menyiarkan beragam informasi tentang desa dan lingkungan hidup.

Suasana Siaran RGLM FM (Foto : RGL FM)
Suasana Siaran RGLM FM (Foto : RGL FM)

Agus Guntoro, Ketua RGL FM, menjelaskan bahwa pada awal pendiriannya, RGL FM sering berpindah-pindah tempat di Talang-Talang di kawasan hutan Taman Hutan Raya Wan Abdu Rachman (Tahura WAR). Agus Guntoro juga menjelaskan bahwa RGL FM didirikan oleh 4 orang, yaitu Edi Suprapto (dengan nama udara Sapi Lanang), Agus Guntoro (dengan nama udara Den Bagus), Somat (dengan nama udara Kirana), dan Mahmud (bukan penyiar RGL FM).

RGL FM itu awalnya didirikan 4 orang di Talang Tahura WAR, di dalam hutan dengan peralatan apa adanya dan sumber tenaganya aki”, jelas Agus Guntoro.

Namun, karena mahalnya harga jasa cas aki untuk sumber listrik pemancar dan ongkos angkut (manol) aki, pegiat RGL FM memutuskan pindah ke Kampung Siliwangi, Hanura, pada tahun 2005. Dengan menyewa sebuah rumah, pegiat RGL FM mulai bersiaran tetap di rumah tersebut dan mulai mengurus proses perizinan pendirian rakom.

Pendengar RGL FM Menerima Hadiah Kuis Siaran (Foto : RGL FM)
Pendengar RGL FM Menerima Hadiah Kuis Siaran (Foto : RGL FM)

Agus Guntoro menambahkan bahwa RGL FM pernah mengalami masa jata pada tahun 2006-2007. Menurutnya, di masa itu RGL FM mampu membayar jasa penyiarnya Rp.30 ribu per penyiar.

Tahun 2006-2007, RGL FM mampu membayar 7 orang penyiarnya sebesar Rp. 30 ribu dari penjualan formulir atensi”, tambah Agus Guntoro.

Sejak berdiri tahun 2004, RGL FM yang juga rakom anggota Jaringan Radio Komunitas Lampung (JRKL), aktif menyiarkanberagam informasi tentang budidaya perkebunan, kelestarian hutan. Lewat program acara “berisik” (berita, informasi dan musik), RGL FM juga menyiarkan beragam berita seputar desa, hutan, info rapat desa, kegiatan pemuda, kegiatan PKK, dan pengumuman gotong royong.

Menurut Agus Guntoro, pada tahun 2008, pegiat RGL FM mulai mengalami kejenuhan. Agus Guntoro menjelaskan bahwa kejenuhan tersebut disebabkan kerusakan pemancar dan tidak lakunya penjualan formulir atensi karena perkembangan layanan SMS telepon seluler.

“Karena hand phone dan sms, formulir atensi kita tidak laku dan akhirnya membuat penyiar-penyiar RGL FM jenuh”, jelas Agus Guntoro.

Tamu Dari Luar Negeri yang Mengunjungi RGL FM (Foto RGL FM)
Tamu Dari Luar Negeri yang Mengunjungi RGL FM (Foto RGL FM)

Kini, pendengar setia RGL FM tersisa 500 orang yang tergabung dalam fans club RGL FM. Fans club RGL FM diberi nama KFC (Kemprus Fans Club), nama tersebut diambil dari nama salah seorang penyiar RGL FM yang paling populer di pendengar RGL FM.

Hingga kini RGL FM masih terus bersiaran melayani kebutuhan hiburan dan informasi warga Desa Hanura, Desa Cilimus dan Desa Hurun, Pesawaran. Taufik (dengan nama udara Fik Rocker), Abdilah (dengan nama udara Parto Pandito), Vidi, Agus Guntoro (dengan nama udara Den Bagus) dan Saprudin Arnam (dengan nama udara Rudi) masih setia bersiaran untuk pendengar RGL FM.

Warga Desa Hanura, Desa Cilimus dan Desa Hurun, Pesawaran, yang menjadi pendengar setia RGL FM sering kirim makanan dan kopi untuk penyiar. Selain itu, warga juga sering menyumbangkan CD lagu kesayangannya untuk diputar di RGL FM.

Walaupun peralatan siar dan pemancar RGL FM sering mengalami kerusakanakibat pemadaman listrik dan proses perizinan rakom yang berbelit, pegiat RGL FM tetap setia menyapa pendengarnya di Desa Hanura, Desa Cilimus dan Desa Hurun, Pesawaran. (SR-001)

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *